Saturday, October 22, 2016

Aku Lah Rumah Mu


Aku adalah rumah mu, tempat di mana mestinya kamu pulang melepas segala keluh kesah mu.
Aku adalah rumah mu, meski tak sebesar yang berada di sana namun aku berusaha membuatmu nyaman.
Kembali lah pulang, saat kamu merasa lelah dan membutuhkan sandaran aku ada menunggumu pulang.
Kembali lah pulang dan berbaring di sampingku saat kamu memiliki banyak masalah.

Aku ingin menjadi tempat kamu pulang, disaat kamu merasa lelah dan dalam kepayahan. Aku ingin menjadi tempat yang pertama kamu cari saat kamu merasa lalah dan dalam kegundahan. Saat kamu kembali pulang dan bercerita tentang keluh kesahmu, rasanya cemasku hilang, kekhawatiran ku pun mereda. Kamu lah alasan mengapa aku sekuat ini, membuat yang sulit menjadi lebih mudah, sedih menjadi indah. Kamu lah yang membuat hari-hari ku yang berat menjadi sangat ringan.

Aku selalu berharap selamanya akan menjadi tempatmu kembali pulang. Mendengarkan segala ceritamu, suka maupun duka, tangis maupun bahagia. Sebuah keinginan yang sangat sederhana, mendengarkan semua gundah mu. Ini bukan lah sajak yang indah, hanya sebuah harapan kecil dariku kepada Tuhan agar kamu tetap menjadikanku tempat kembali pulang.

Carilah aku jika kamu sedang merasa kosong, karena aku adalah rumah mu tempat kembali pulang.
Aku adalah rumah yang akan membuatmu merasa hangat, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Aku selalu berusaha meringankan bebanmu walau tak dapat mengurangi masalahmu.
Aku adalah rumah mu, tempat yang akan menjadikan hidup kamu lebih baik walau dengan masalah yang sama.

Kembali lah pulang, sayang.
Aku menunggumu, dengan penuh kecemasan.

By: Dindahiin

Bayangannya Kembali Menyapa


Haiii kamu yang selalu saya kagumi, apa kabar? Lama tak terlihat, ternyata bayangmu kembali menyapa dalam ingatan.

========================================================================

Sudah lama saya tak pernah melihatnya, ntah berapa lama yang jelas terakhir saya melihatnya memakai kemeja berwarna putuh sedang duduk menghadapi laptop serta tumpukan kertas. Teduh... ya, sangat teduh seperti pertama kali saya melihat saat belum mengenalnya. Senyum lebar dan mata terpejamnya, pun tak pernah berubah masih seperti dulu saat ku pandanginya persis dihadapannya.

Sesekali saya bersimpangan dengannya, meski tak saling sapa bahkan kadang saya tak mampu untuk sekedar menatapnya melemparkan sebuah senyuman terbaik. Sempat lupa dengannya, bukan berarti bayangnya hilang ternyata. Bayangnya masih terpahat rapih di dalam hati yang tak pernah ku sadari bahkan sempat saya sangkal keberadaannya.

17.976 jam sudah berlalu namun hingga saat ini ia tak pernah tau apa yang telah saya perbuat untuknya, sesekali memandangi dari kejauan meski saat ke empat mata ternyata beradu dan saya memilih membuang jauh dari pemandangan yang begitu indah.

17.976 jam ternyata terasa lebih cepat dari apa yang saya bayangkan, berharap beberapa jam kedepan akan dapat melupakan pancaran matanya yang selalu menyejukan. Harapan saya untuk beberapa tahun kedepan akan lebih sering bertemu dengannya walau hanya memandangi dari jauh.

=========================================================================

Hai... Kamu, yang tak pernah tahu isi hati ku. Jika kamu membaca tulisan ini, dan merasa ini kamu. Maka, jawabannya adalah benar! Tulisan ini memang untuk kamu, yang saya kenal saat 17.976 jam yang lalu. Jangan pernah merasa rendah padaku, karena sesungguhnya saya yang selalu terjatuh dalam bayangmu.

Hai... Kamu, ya... Kamu, sayang.
Boleh kah saya berkenalan dengan masa lalu mu?
Dan menemani masa depan mu?
Jika boleh, biarlah sekarang kita berjalan pada jalan yang kita pilih
Namun, satu hal yang harus kamu tau.
Saya akan menungumu, dipersimpangan sana hingga akhirnya kita akan berdampingan
Dan aku berjanji akan menemani langkahmu di masa depan.

Salam rindu untuk kamu, sayang.

By: Dindahiin

Tuesday, December 22, 2015

Apa Kabar Kehidupanku?


Pagi buta gini saya menanyakan kabar diri sendiri apakah masih baik-baik saja, atau sudah remuk redam.
Satu bulan terakhir ini banyak sekali beban yang datang menghampiri, beban ini datang setiap menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Bukan, bukan mengenai mata kuliah yang saya ampu. Akan tetapi mengenai uang yang harus saya bayar untuk 1 semester kedepan.

Perasaan gak karuan dicampur kepala pusing serta krisis harapan selalu melanda, dikarenakan kurangnya konsentrasi dalam mencari uang untuk bayar kuliah.
Disaat banyaknya tugas kuliah serta laporan praktikum yang harus diselesaikan sebelum UAS, otak saya tak lagi memikirkan semua itu. Pusingnya tugas serta laporan terkalahkan oleh pusingnya cari uang.

Ada cerita lucu sekaligus menyedihkan saat post-test praktikum berlangsung (Khususnya Pengantar Geoteknik), malamnya saya sibuk jualan mengejar target karena disibukan oleh laporan sehingga jualan terbengkalai akibatnya malam sebelum post-test saya tidak belajar sama sekali. Saat post-test berlangsung tidak ada rasa dag dig dug sama sekali padahal ternyata saya diberikan kesempatan maju paling pertama. Apakah post-test nya sukes? Bisa dibilang biasa saja karena ternyata saya hanya mendapatkan nilai 64. Sedih? Tidak, nilai itu sudah lebih dari cukup untuk seorang Mahasiswi dengan otak pas-pasan dan tidak belajar menurut saya.

Saat itu saya melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa Asdos Praktikum (gak perlu disebut namanya) menatap saya dengan memasang muka bermuram durja, ntah itu hanya perasaan atau memang wajah itu lah yang menunjukan kekecewaan karena saya tak bisa menjawab pertanyaan dari Asdos yang lainnya. Asdod Praktikum saya tidak mengetahui apa yang ada di otak saya saat itu, tentang segala kegelisahan saya terhadap bayaran kuliah yang sudah didepan mata.

Selama mengerjakan laporan Praktikum banyak yang nyinyir tentang betapa santainya saya terhadap laporan tersebut karena tinggal nyalin. Egois? Di mata orang lain, IYA. SANGAT. Tapi mereka juga seharusnya melihat dari sisi kehidupan saya, saya bisa saja berhenti kuliah kapanpun karena tidak sanggup lagi membayar kuliah.
Namun, saya merasa hal pribadi saya tak perlu diceritakan kepada Asdos atau pun teman karena saya rasa tak semua orang akan mengerti keadaan, tak semua orang akan care terhadap urusan pribadi, dan bukan kewajiban mereka juga untuk memahami semua masalah pribadi saya. Terlalu egois rasanya jika saya menuntut agar mereka mengerti akan semua permasalahan hidup saya.

Lalu, apa kabar dengan kehidupanku saat ini?
Sangat baik, walau mungkin semester depan saya bisa saja mengambil cuti kuliah di UMY karena tidak bisa membayar. Tapi hingga saat ini saya masih berusaha untuk mencukupi bayaran kuliah. Allah akan selalu memberikan rizki yang cukup untuk seorang yang taat nya pas-pasan seperti saya. Selalu!

Dari segala hal yang telah saya lewati, saya banyak belajar dari semua itu. Tentang arti dari sebuah kata sabar, ketegaran, serta kekuatan. Dan saya tak lagi menutut kebahagiaan berlebih karena menurut saya kebahagiaan tak perlu berlebihan, kebahagiaan adalah saat Allah memberikan saya kesempatan menyelesaikan semua ujian hidup, kebahagiaan saat Allah memberikan saya kesehataan hingga saat ini. Iya, ini tak seperti biasanya. Saya selalu jatuh sakit saat tertekan, tapi saat ini ternyata Allah memberikanku kesehatan yang berlebih.

Terima kasih, Allah.
Engkau selalu memberikan kehidupan yang berwarna untuk saya.

Tetap semangat... Semuanya...

Love!
Kodok

Saturday, September 5, 2015

Menjadi Ibu serta Istri yang baik


Teman: "Eh, Teteh mau jadi apa sih kuliah dua jurusan? Emang gak pusing?"
Saya: "Ingin menjadi Ibu yang pintar untuk anak-anak saya"

Kemudian mendengar pernyataan saya tersebut mereka terpingkal-pingkal, sembari mengatakan pendidikan itu gak usah kita (sebagai ibu) yang perlu repot ngajarin. Cukup dengan menyekolahkan anak-anak ditempat terbaik, memberikannya les, gak perlu jadi ibu yang pintar karena jaman sekarang udah banyak lembaga yang membuka pendaftaran untuk mencerdaskan anak-anak.
Mendengar pernyataan teman saya seperti itu jujur saja saya sangat terpukul, mengapa? Karena ternyata banyak wanita yang tidak mempersiapkan sedemikian rupa untuk anaknya kelak, apa mereka mau seorang anak tumbuh dan berkembang oleh orang lain? Bukankah seperti itu adalah hal yang sangat menyakitkan?

Saya adalah seseorang yang dibesarkan oleh Nenek dan Kakek bukan oleh Ibu apa lagi Ayah. Ibu saya sibuk menata masa depan saya dengan cara bekerja, maklum beliau adalah pejuang keluarga dan seorang single parent terhebat dalam hidup saya. Saya sedih ketika harus jauh dari beliau, namun keadaan tersebut sama sekali tidak membuat rasa sayang ini begitu jauh karena saya memaklumi apa yang beliau lakukan.

Waktu demi waktu terlewati, saya belajar sendiri mengenali arti hidup yang sebenarnya, bagaimana cara menghormati orang lain, berempati kepada orang lain, bahkan saya belajar bagaimana cara menggoreng tempe sendiri saat perut terasa lapar hingga akhirnya hampir membakar dapur Nenek saya (Kejadian ini saat kelas 3 SD).
Saya tumbuh berkembang hanya dari satu kalimat yang dilontarkan oleh Ibu saya 
'Jadi wanita harus kuat, orang yang memberikan kekuatan dalam hidup untuk anak itu adalah Ibu. Kamu harus banyak belajar untuk anak-anakmu'

Sebagai manusia biasa saya sebenarnya tidak lah kuat, selalu ada rasa yang 'kosong' saat jauh dari seorang ibu, saat tak bisa bercerita bagai mana keadaan di sekolah saat itu, bagaimana saya harus mengisi pekerjaan rumah (PR) dari sekolah sendiri tanpa bertanya 'Bu, ini gimana ya? Aku belum ngerti' atau aku tak pernah mendengar kalimat 'Tugasnya udah dikerjakan belum?' dari ibuku seperti bocah SD pada umumnya. Sekali lagi bukan karena salah Ibu ku, ini adalah cerita dari Tuhan yang harus saya jalani walaupun sangat pedih, hingga detik ini saya menuliskan cerita ini dengan penuh linangan air mata bibir ku bergetar. Bukan saya menyesal memiliki Ibu seperti beliau, tidak. Saya sangat menyayanginya dan begitu bangga padanya, beliau mengajarkanku arti tentang sabar, kuat, tegar, mandiri dan bertanggung jawab dalam hidup yang sebenarnya. Dari beliau saya belajar bahwa kopi itu sangat pahit jika tanpa gula, begitu pula dengan kehidupan akan terasa pahit sekali tanpa rasa syukur.

Sekali lagi saya berkata, 'Mengapa harus Ibu yang pintar?'
Gelar memang bukanlah segala-galanya, saya hanya ingin sedikit mengetahui tentang pendidikan yang nantinya saat anak-anak saya kelak menanyakan sebuah tugas, saya mampu membantunya dengan ketulusan seorang Ibu kepada anaknya yang sangat saya sadari hal itu tak akan dapat dari gurunya.
Saya bukan orang yang jenius dalam akademik, saya hanya seorang wanita yang ingin belajar dan mendapatkan ilmu. Tapi menurut saya, Ilmu yang hakiki dan terberat adalah ilmu sabar yang akan didapatkan dari kehidupan sehari-hari bukan semata-mata dari sekolah atau kampus saja.

Kemudian, 'Apa yang akan kamu lakukan saat sudah memiliki 2 gelar sekaligus?' 
Yang jelas  jawabannya bukan menjadi pegawai di perusahaan yang bonafit, dengan penghasilan sekian puluh juta perbulan. Bukan.
Saya hanya ingin menjadi pedagang yang sukses, sukses dalam mengasuh anak serta membantu suami menambah penghasilan atau bahkan sekedar membeli  celana dalam saya yang sudah lusuh.

Apakah menurut kamu, pilihan saya ini bodoh? Saya tidak peduli, sekali lagi saya menuntut ilmu bukan untuk mencari uang apa lagi dipandang dengan derajat lebih tinggi. Hidup tidak sepicik itu menurut saya. Saya ingin menjadi guru untuk anak-anak saya kelak, menjadi Ibu yang baik, yang bisa mengajari anaknya dengan penuh kasih sayang, memberikan pelajaran yang kelak tak akan didapatkan oleh anak saya di lembaga pendidikan manapun. Yakni kasih sayang.

Seorang Ibu yang baik sangatlah sulit, terbukti tidak ada dalam kurikulum jurusan apapun termasuk Teknik Sipil dan Akuntansi yang sedang saya jalani. Tidak ada pula lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan jurusan Ibu yang Baik. Semuanya perlu dipersiapkan mulai dari sekarang karena sekali lagi saya tegaskan menjadi Ibu yang Baik itu sangat sulit, ketika seorang anak dan suami mengakui kita adalah Ibu terbaik yang ada di dunia ini. Itu sangat SULIT!

Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh berkembang tanpa sapaan selamat pagi atau selamat tidur dan kecupan kasih sayang setiap hari, saya ingin mendengar curhatan isi hati mereka tentang seseorang yang mereka sukai di kelasnya atau di sekolahnya, saya ingin mengajarkan caranya memasak tempe yang baik dan benar tanpa harus membuat dapur kebakaran, saya ingin mengajarkan anak wanita saya bermake-up yang sederhana serta menemaninya belanja, saya ingin menjadi sosok koki terbaik sepanjang hidupnya yang dengan bangganya mereka ceritakan kepada teman-temannya bahwa masakan saya paling enak sedunia, saya juga ingin sekali menjadi tempat tumpahnya air mata saat anak-anak saya kelak merasa sedih, dan saya juga ingin sekali menjadi tempat pelukan yang hangat saat anak-anak saya kelak menjadi juara di sekolahnya. Karena seorang Ibu kewajibannya bukanlah sekedar melahirkan, tetapi mendidik dan menemani tumbuh kembang anak-anaknya, menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anaknya.

Saya ingin berdagang sesuai dengan profesi saya saat ini, karena kelak profesi itu tidak menyita waktu saya sebagai seorang Ibu dan Istri. Saya tetap dapat memantau anak-anak saya, menyiapkan makanan terlezat untuk suami dan anak-anak saya. Jika Tuhan mengizinkan, saya juga ingin sekali melanjutkan S2 akuntansi saya, siapa tahu suatu saat nanti suami saya adalah orang yang pintar yang bisa membuka usaha sendiri dan kami memulainya dari NOL, saya sebagai bagian atas keuangan perusahaan tersebut. Jika saya pintar? Saya dapat membantu suami saya walau sekedar membantu benahi keuangan usaha yang suami saya jalani kelak. Itu sangat indah~

Wanita yang baik itu akan berfikir jauh tentang masa depan keluarga terutama anak-anaknya, wanita yang baik tak kan pernah membiarkan suaminya bekerja seorang diri, wanita yang baik itu sangat fleksibel dalam melakukan sesuatu baik itu menyiapkan sarapan bahkan hanya sekedar mengikat tali sepatu anak saat akan pergi ke sekolah, pun membenahi dasi dan kemeja yang dikenakan oleh suaminya sebelum berangkat bekerja. Wanita yang baik itu cerdas dan cekatan, bukan cantik tapi benalu untuk keluarganya.

Sekali lagi, ini hanya sekedar impian terbesar dalam hidup saya. Yang mungkin ditertawakan oleh banyak orang lain yang membacanya. Semoga kelak suami saya pun menyetujui niat terbesar saya untuk menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya, buah dari cinta kami kelak. aamiiin

Salam,
Dindahiin

Mengapa harus saya?



Pertanyaan sederhana dalam hidup yang sering keluar dari mulut adalah 'Mengapa harus saya?' saat manusia sedang diberikan ujian oleh Tuhan, termasuk saya sendiri.
Saya tersadar ternyata manusia membutuhkan 'sentilan' agar lebih kuat lagi dalam menjalani hidup dan sering kali mengeluh 'Mengapa harus saya?' hingga berkata 'Tuhan tidak adil kepada saya'. Rasanya jika mengingat semua kejadian tersebut saya begitu malu, dan saya tak tahu malu pada saat itu karena hanya bisa bertanya tanpa mencari tahu sebab dari kejadian tersebut. Bukankah selalu ada sebab sebelum adanya akibat?

Hidup adalah sebuah pelajaran, ujian terberat adalah ujian dari Tuhan ntah itu bentuk kesenangan maupun kesedihan. Sebenarnya tidak terlalu berat jika kita mampu menerima dengan berlapang dada, sayangnya saya tak mungkin sesempurna itu berfikir, ego saya terlalu tinggi sebelum akhirnya menjadi dewasa dan mengerti apa yang Tuhan rencanakan untuk masa depan saya (Saat ini).

Saya belajar saat terkena batu dari belakang. Mengapa demikian? Sebab berubah itu tidak mudah. Dari lemparan batu tersebut akhirnya saya dapat mengingat Tuhan kemudian berdo'a walau terkadang lebih tepatnya menghakimi Tuhan. Seperti apa? Misalnya

"Tuhan, mengapa harus saya yang menghadapi cobaan ini? Mengapa harus saya yang hidup miskin? Mengapa Tuhan memberikan cobaan bertubi-tubi? Saya muak Tuhan dengan semua ini" 

Padahal? Apa yang akan terjadi setelah saya berbicara seperti itu dalam hati atau bahkan menangis terisak-isak dalam sujud? Tidak ada! Yang ada hanyalah rasa pusing karena tidak ada jalan keluar. Tidak ada satupun yang bilang bahwa mengeluh adalah solusi terbaik untuk menghadapi hidup, karena sebenarnya dibalik sebuah ujian terdapat titik balik dimana jika saya dapat melewatinya saya akan diangkat satu level ke tingkat yang lebih tinggi dimata Tuhan.
Hidup adalah rangkaian ujian yang menyakitkan!
Manusia berada di muka bumi ini bukan untuk di uji terus menerus. Akan tetapi saya menganggapnya sebuah didikan, Yups! Pendidikan tidak hanya ada di Sekolah atau di Kampus saja karena pelajaran terberat adalah pelajaran dalam hidup dimana kita harus banyak bersabar dan menerima apa yang Tuhan berikan. Tiap-tiap kejadian sebenarnya akan mengubah hidup kita, mengubah pola berfikir kita. Jika kita dapat bersikap dewasa, dan meyakini bahwa setiap perkara pasti ada maksudnya, tak ada satupun perkara di dunia ini tanpa maksud dan tujuan.

the Law of attraction (LoA)
Sebagian besar manusia mungkin sudah mengenal hukum tarik menarik atau yang disebut dengan LoA. Apa sih hukum tarik menarik? Hukum tarik menarik itu adalah apa yang kita fikirkan maka hal itu lah yang akan terjadi.
Misalnya, saat saya memiliki hutang rumah. Saya sangat takut mati karena saya tak ingin membawa hutang saat mati nanti. Setiap saat saya selalu berkata dalam hati "Aku harus tetap hidup untuk melunasi rumah", cermati baik-baik perkataan saya tersebut, apakah ada kata yang negatif? Tentu tidak. Kata tersebut adalah 'Hidup' dan 'Lunas' berbeda hal nya dengan berbicara 'Please jangan mati dulu, hutang gue masih banyak', NO! Itu salah, karena bisa jadi saya akan mati saat itu juga dan meninggalkan hutang.
Mulai dari saat ini saya ingin mengajak kamu yang membaca tulisan ini agar belajar untuk mengeluarkan kata-kata positif agar hidup lebih baik lagi. Kurangi mengeluh bila perlu berusaha menghindari agar hidup gak terasa berat.

Setelah demikian panjangnya saya menulis, masih inginkah kamu berfikir 'Mengapa harus saya?' saya harap tidak lagi demikian.
Saya selalu berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan siapapun dan terkadang saya selalu berbohong terhadap diri saya sendiri. Tentang apa? Tentang hidup yang saya jalani.
Saya berpura pura tersenyum dan tertawa dalam sakitnya hidup yang harus saya jalani. Dengan seperti itu saya berharap hidup saya memang akan baik-baik saja karena ada Tuhan yang selalu melindungi saya.
Saat saya berpura-pura tegar dan kuat dalam kepedihan serta beratnya hidup. Saya berharap memang akan bisa terlewati.
Saya baik-baik saja, adalah kalimat yang mengantarkanku kepada kekuatan yang teramat tanpa saya sadari.

Jalani kehidupan dengan senyuman, Tuhan memilih saya atau kamu dalam suatu kejadian itu karena Tuhan tau betapa kuatnya kita. Betapa kita lebih kuat dari apa yang kita fikirkan, maka dari itu stop bertanya 'Mengapa harus saya?' karena jawabannya adalah 'Karena kamu dapat melaluinya dengan penuh senyuman'.

Semoga selalu ada senyum dan tawa tergurat di wajah kita.

Salam,
Dindahiin

Monday, August 3, 2015

Waktu



Suatu hari Mira bertemu dengan Nadya, mereka saling sapa dan bercerita satu sama lain karena mereka sudah lama tak bersua. Kemudian terlempar kalimat tak sengaja oleh Mira kepada Nadya.
Mira : Wah Nad! itu jam mahal, kan?
Nadya : Iya.. hehe
Mira : Untuk apa kamu membeli jam semahal itu? Apakah dengan jam tangan semahal itu akan merubah waktu menjadi mundur ke masa lalu?

Kemudian Nadya pun terdiam, ia berfikir memang tak kan pernah ada seorang pun yang dapat mengubah waktu menjadi mundur ke masa lalu sekalipun jam tangan terbuat dari intan berlian.

*** Di kutip dari sebuah cerita ntah asal usulnya dari mana, cerita sebenarnya tidak seperti itu namun kira-kira demikian percakapannya ***

Waktu adalah hal yang tak kan pernah terulang. Tidak, walaupun kita menangis sampai air mata terkuras habis.

Waktu adalah hal yang akan terus berjalan maju tanpa pernah ragu. Seberapapun hati kita penuh dengan kegundahan serta keraguan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.

Lalu, apa kabarnya mereka yang selalu mengulur waktu ketika ingin bertemu?
Bagai mana kabarnya mereka yang selalu bersuka ria membuat seseorang menunggu?
Saya sendiri selalu berusaha untuk tidak menunggu maupun ditunggu karena keduanya adalah hal yang paling menyebalkan.

Kemudian, bagaimana penantianku terhadap dia yang akan menjadi jodoh saya?
Sebagai mana Tuhan memberikan petunjuk untuk umat-Nya yang selalu berjanji berikan yang terbaik untuk siapapun yang terus berusaha tanpa terkecuali.
Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk jodoh saya, mempersiapkan diri baik dari segi kepribadian maupun Agama agar saya senantiasa bersabar jika suatu saat kenyataan tak sesuai harapan.
Tak jarang saya menghabiskan waktu dengan menulis dan membaca agar hati ini tak pernah kosong, walau kini sedang ada seseorang yang sedang bermain-main dalam hati dan fikiran saya. Ntah, ntah sampai kapan sosok itu terus berada dalam benak saya, menghantui hari-hari saya.
Saya begitu takut jika suatu saat sosok itu menghilang dari hati dan fikiran saya, maka sebaliknya saya tak pernah takut jika suatu saat sosok itu menjelma dan ternyata bukan untuk saya.

Jika Tuhan menghendaki, saya selalu meminta agar Tuhan tak pernah menghilangkan rasa sayang ini pada sosok lelaki yang ntah sampai kapan saya akan bertemu di dalam sebuah cerita dimana dia akan mencintai saya dan menjadikan saya sebagai pelengkap dari separuh ibadahnya.

Hanya waktu yang akan menjawabnya~

Belajar Dewasa Dari Kesendirian

Sumber Google


Sebuah hal yang mungkin tabu untuk banyak kalangan terutama anak muda jaman sekarang adalah “Menjoblo sampai HALAL”, tapi tidak untuk saya pribadi. Menjadi seseorang yang single itu adalah hal yang sangat biasa buat saya pribadi. Kenapa sih jaman sekarang masih aja jomblo? Pacaran kan asik, bisa bahagia, bisa pergi bareng, makan bareng, nonton bareng, berbagi kesedihan, belajar bareng, kalo ngejomblo terus gimana caranya belajar buat menyayangi suami nanti, Kak? Kan gak ada pengalaman sama sekali dong.

Ya kalau yang memandang begitu bocah SD, SMP, SMA sih wajar kali ya karena mereka pun belum memahami arti cinta yang sesungguhnya. Kalo emang dengan pacaran itu bisa bikin bahagia bagaimana halnya saat mereka menjomblo seperti saya? Apakah mereka akan bahagia seperti saya? Jawabannya tentu tidak, karena menurut saya orang yang sudah terbiasa pacaran akan merasa kehilangan, sedih, dan tidak bahagia. Kenapa? Karena sebenarnya yang mereka rindukan itu adalah kebiasaan bersama pasangannya, bukan merindukan pasangannya. Well? Itu berarti kalo mereka putus, mereka akan kehilangan kebahagiaannya karena menggantungkan kebahagiaan terhadap pasanganya. Obatnya apa? Mereka hanya membutuhkan pasangan yang baru. Siklus itu terus berulang sampe Linkin Park nyanyi kosidahan pun saya rasa tidak akan pernah berhenti. YA!


Sumber Google

Let me tell you, saya punya banyak teman di kehidupan saya yang kerap kali menangis saat putus cinta, mencoba bunuh diri bahkan hamil diluar pernikahan tentu ini bukan sebuah kebanggaan namun sebuah kesedihan buat diri saya pribadi. Kemudian apa hubungannya? Hubungannya adalah saya merasa tak perlu mengikuti jejak mereka untuk mendapatkan pengalaman pacaran. Saya tetap bertanya kepada diri saya sendiri sebagai perempuan Apa yang didapat dari sebuah hubungan pacaran buat cewek?” Nggak ada. Lalu Apa ruginya pacaran buat cewek?” BANYAK bahkan gak terhitung. Hal terburuk bagi seorang wanita saat pacaran adalah kebobolan . Ya, masadepan pun seakan hilang dan nyaris tak ada harapan, terlebih sang kekasih gak bertanggung jawab setelahnya. Mereka curhat sembari nangis sejadi jadinya tepat didepan bola mata saya, apakah saya hanya bisa terdiam dan tak memberikan solusi karena tidak berpengalaman? Tentu saja tidak, saya berusaha menenangkannya dan menguatkannya. Disaat saat seperti itu wanita memang hanya butuh sandaran untuk menjadikannya kuat kembali dan ia tak merasa sendirian.

Tak hanya tentang percintaan selama pacaran, dalam rumah tangga di lingkungan sekitar saya berada juga sudah cukup menguatkan saya bahwasanya tak perlu menjadi seperti mereka untuk mengetahui apa yang terjadi, bukan? Kerap kali seorang istri (teman, kerabat, saudara maupun tetangga saya) yang curhat kepada saya tentang asam garam kecuali asam lambung rumah tangga dan tak jarang mereka sembari menangis menceritakan kesedihan mereka yang sebenarnya tak patut untuk diceritakan kepada orang lain termasuk saya karena itu adalah aib rumah tangga mereka. Lagi-lagi saya bertanya, apakah saya saat itu hanya terdiam karena saya belum menikah? Tentu saja tidak, tetapi saya membiarkan mereka tenang terlebih dahulu dengan sedikit sentuhan yang menguatkan hati mereka, karena sejatinya wanita saat sedang bersedih tak memerlukan celotehan bijak dari siapapun, yang mereka butuhkan hanyalah sandaran yaa sekali lagi adalah SANDARAN! Saya tidak berpengalaman berpacaran apa lagi menikah, tapi mereka tetap saja ingin berbagi kisah dengan saya.

Dari banyak hal diatas yang sudah saya ceritakan tersebut banyak sekali pengalaman yang saya dapat dari cerita-cerita mereka. Apakah saya harus seperti mereka berpacaran juga? Rasanya tidak perlu, karena dari cerita mereka saja sudah cukup banyak belajar tentang bagaimana saling mengasihi, menghargai, menyayangi, dan saling menguatkan satu sama lain bahkan yang terpenting menjaga suatu hubungan dengan kepercayaan serta saling menjaga satu sama lain itu adalah hal mutlak. Suatu hubungan itu bukan dilihat dari seberapa lama pacaran karena pada saat pacaran banyak hal yang ditutup tutupi karena tak ingin keburukaannya diketahui oleh pasangan. Dan pada saat berumah tangga baru mengetahui sifat buruknya, tentu saja merasa kecewa karena hal tersebut tidak diketahuinnya saat masa masa pacaran.

Dalam hidup kamu sudah sepatutnya harus belajar menerima kelebihan dan kekurangan orang disekitar kamu, sepahit apapun itu seharusnya kamu bisa menerima hal tersebut. Ingat, siapapun bisa membuat kamu kecewa jadi please jangan menggantungkan harapan lebih terhadap orang lain termasuk orang tua kamu sendiri karena orang tua sekalipun tak pernah luput dari khilaf.

Sumber Google

Dari kehidupanlah kamu belajar menjadi dewasa. Perlu kamu ketahui, kedewasaan bukanlah soal seberapa lama kamu hidup di dunia tetapi saat kamu tak pernah merasa lebih dewasa dari orang di sekitarmu, sehingga kamu mampu belajar lebih banyak lagi tentang hidup dan berendah hati agar tidak meremehkan orang lain.

Boleh kamu tidak sependapat dengan saya karena memang fikiran mnusia tak pernah selalu sama, selalu memiliki pendapat dan jalan hidup masing-masing. Mari kamu sama sama belajar. Semoga kamu selalu menjadi diri pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin

See You…