Pagi buta gini saya menanyakan kabar diri sendiri apakah masih baik-baik saja, atau sudah remuk redam.
Satu bulan terakhir ini banyak sekali beban yang datang menghampiri, beban ini datang setiap menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Bukan, bukan mengenai mata kuliah yang saya ampu. Akan tetapi mengenai uang yang harus saya bayar untuk 1 semester kedepan.
Perasaan gak karuan dicampur kepala pusing serta krisis harapan selalu melanda, dikarenakan kurangnya konsentrasi dalam mencari uang untuk bayar kuliah.
Disaat banyaknya tugas kuliah serta laporan praktikum yang harus diselesaikan sebelum UAS, otak saya tak lagi memikirkan semua itu. Pusingnya tugas serta laporan terkalahkan oleh pusingnya cari uang.
Ada cerita lucu sekaligus menyedihkan saat post-test praktikum berlangsung (Khususnya Pengantar Geoteknik), malamnya saya sibuk jualan mengejar target karena disibukan oleh laporan sehingga jualan terbengkalai akibatnya malam sebelum post-test saya tidak belajar sama sekali. Saat post-test berlangsung tidak ada rasa dag dig dug sama sekali padahal ternyata saya diberikan kesempatan maju paling pertama. Apakah post-test nya sukes? Bisa dibilang biasa saja karena ternyata saya hanya mendapatkan nilai 64. Sedih? Tidak, nilai itu sudah lebih dari cukup untuk seorang Mahasiswi dengan otak pas-pasan dan tidak belajar menurut saya.
Saat itu saya melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa Asdos Praktikum (gak perlu disebut namanya) menatap saya dengan memasang muka bermuram durja, ntah itu hanya perasaan atau memang wajah itu lah yang menunjukan kekecewaan karena saya tak bisa menjawab pertanyaan dari Asdos yang lainnya. Asdod Praktikum saya tidak mengetahui apa yang ada di otak saya saat itu, tentang segala kegelisahan saya terhadap bayaran kuliah yang sudah didepan mata.
Selama mengerjakan laporan Praktikum banyak yang nyinyir tentang betapa santainya saya terhadap laporan tersebut karena tinggal nyalin. Egois? Di mata orang lain, IYA. SANGAT. Tapi mereka juga seharusnya melihat dari sisi kehidupan saya, saya bisa saja berhenti kuliah kapanpun karena tidak sanggup lagi membayar kuliah.
Namun, saya merasa hal pribadi saya tak perlu diceritakan kepada Asdos atau pun teman karena saya rasa tak semua orang akan mengerti keadaan, tak semua orang akan care terhadap urusan pribadi, dan bukan kewajiban mereka juga untuk memahami semua masalah pribadi saya. Terlalu egois rasanya jika saya menuntut agar mereka mengerti akan semua permasalahan hidup saya.
Lalu, apa kabar dengan kehidupanku saat ini?
Sangat baik, walau mungkin semester depan saya bisa saja mengambil cuti kuliah di UMY karena tidak bisa membayar. Tapi hingga saat ini saya masih berusaha untuk mencukupi bayaran kuliah. Allah akan selalu memberikan rizki yang cukup untuk seorang yang taat nya pas-pasan seperti saya. Selalu!
Dari segala hal yang telah saya lewati, saya banyak belajar dari semua itu. Tentang arti dari sebuah kata sabar, ketegaran, serta kekuatan. Dan saya tak lagi menutut kebahagiaan berlebih karena menurut saya kebahagiaan tak perlu berlebihan, kebahagiaan adalah saat Allah memberikan saya kesempatan menyelesaikan semua ujian hidup, kebahagiaan saat Allah memberikan saya kesehataan hingga saat ini. Iya, ini tak seperti biasanya. Saya selalu jatuh sakit saat tertekan, tapi saat ini ternyata Allah memberikanku kesehatan yang berlebih.
Terima kasih, Allah.
Engkau selalu memberikan kehidupan yang berwarna untuk saya.
Tetap semangat... Semuanya...
Love!
Kodok

No comments:
Post a Comment