Jangan terlalu buru-buru menerka kehidupan seseorang apa lagi hanya yang dapat kita lihat dari kasat mata kita.
Mungkin terkadang kita khilaf namun itulah kelemahan manusia, yang tak pernah bisa luput dari dosa.
Akan tetapi dapatkah kita menahan segala kalimat yang keluar dari lidah tak bertulang ini yang dapat menyakiti orang lain?
Yang mereka tau, saya belum menikah sehingga mereka merasa berhak bertanya mengapa saya masih belum ingin menikah?
Sebenarnya yang mereka tidak tau, saya sedang memperjuangkan sesuatu, sedang mempersiapkan diri agar terus menjadi lebih baik hingga tiba akhirnya sama-sama bertemu di waktu yang sangat tepat dan di tempat yang sangat indah.
Namun mereka lupa bahwasannya jodoh adala misteri yang ditulis sendiri oleh Tuhan, tak bisa terburu-buru dan tak bisa terlalu santai semuanya sudah di atur oleh Tuhan tinggal kita nilai seberapa jauh dan besarkah persiapan kita untuk menjemput jodoh tersebut?
Yang mereka tau, saya orangnya pemurung dan tidak dapat bergaul dengan banyak orang di kitarnya. Sehingga mereka berhak berfikir, buat apa mereka berteman dengan saya?
Sebenarnya yang mereka tidak tau, saya sedang membaca dan mencari tau siapa mereka, bisakah saya berguna untuk mereka? Dapatkah mereka menerima saya apa adanya?
Namun mereka juga lupa, dengan siapa mereka berbicara. Saya jauh lebih mengenal mereka meski mereka tak ingin mengenal saya. Ya~ Saya seorang mahasiswi 'tua' di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang dianggap terlalu kolot untuk sekedar bercanda, mereka tidak tau bahwasanya saya adalah manusia yang dapat mencairkan suasana.
Tak perlu mereka tau siapa saya, namun saya berhak tau siapa mereka.
Suatu hal pasti menjadi dewasa adalah menusia akan cenderung menyimpan masalah sendiri. Manusia akan cenderung menutupi emosi mereka depan khalayak. manusia cenderung menampakkan hal yang baik baik saja. Itulah yang saya namakan perubahan, apabila ketika bayi manusia bebas menangis depan umum, semakin tua hal tersebut menjadi tidak mungkin terjadi bukan? Apa mungkin saya harus menangis di depan mereka saat saya tak suka dengan pertanyaan, pernyataan serta sikap mereka? Saya rasa tidak perlu.
Semakin tua manusia akan semakin menutupi apa yang cenderung membuatnya sedih dan menampakkan kondisibaik baik saja begitu pula dengan saya. Dan seharusnya ini juga cukup untuk berhenti bertanya mengenai takdir Tuhan.
Apa yang bisa di simpulkan? Kita sebagai manusia yang tak memiliki indera ke-6 tidak tahu kondisi yang sedang dialami lawan bicara kita. Hingga kita sampai pada fase tersebut. Banyak manusia yang menerka-nerka entah sifat ataupun kehidupan seseorang hanya dari penampilan saja tanpa melihat sisi lain dari yang mereka nilai. Bahkan tak sedikit manusia yang menanyakan hal-hal konyol seperti 'Kapan menikah?' yang selalu menganggapnya itu sebuah do'a agar segera duduk dipelaminan. Bukankah do'a yang tulus adalah do'a yang diam-diam? Tanpa harus menggembar gemborkan? Ntahlah~
Biarlah orang lain melihat saya yang kuat tanpa pernah mengeluh, sestruggling apapun hidup.
No comments:
Post a Comment