Teman: "Eh, Teteh mau jadi apa sih kuliah dua jurusan? Emang gak pusing?"
Saya: "Ingin menjadi Ibu yang pintar untuk anak-anak saya"
Kemudian mendengar pernyataan saya tersebut mereka terpingkal-pingkal, sembari mengatakan pendidikan itu gak usah kita (sebagai ibu) yang perlu repot ngajarin. Cukup dengan menyekolahkan anak-anak ditempat terbaik, memberikannya les, gak perlu jadi ibu yang pintar karena jaman sekarang udah banyak lembaga yang membuka pendaftaran untuk mencerdaskan anak-anak.
Mendengar pernyataan teman saya seperti itu jujur saja saya sangat terpukul, mengapa? Karena ternyata banyak wanita yang tidak mempersiapkan sedemikian rupa untuk anaknya kelak, apa mereka mau seorang anak tumbuh dan berkembang oleh orang lain? Bukankah seperti itu adalah hal yang sangat menyakitkan?
Saya adalah seseorang yang dibesarkan oleh Nenek dan Kakek bukan oleh Ibu apa lagi Ayah. Ibu saya sibuk menata masa depan saya dengan cara bekerja, maklum beliau adalah pejuang keluarga dan seorang single parent terhebat dalam hidup saya. Saya sedih ketika harus jauh dari beliau, namun keadaan tersebut sama sekali tidak membuat rasa sayang ini begitu jauh karena saya memaklumi apa yang beliau lakukan.
Waktu demi waktu terlewati, saya belajar sendiri mengenali arti hidup yang sebenarnya, bagaimana cara menghormati orang lain, berempati kepada orang lain, bahkan saya belajar bagaimana cara menggoreng tempe sendiri saat perut terasa lapar hingga akhirnya hampir membakar dapur Nenek saya (Kejadian ini saat kelas 3 SD).
Saya tumbuh berkembang hanya dari satu kalimat yang dilontarkan oleh Ibu saya
'Jadi wanita harus kuat, orang yang memberikan kekuatan dalam hidup untuk anak itu adalah Ibu. Kamu harus banyak belajar untuk anak-anakmu'
Sebagai manusia biasa saya sebenarnya tidak lah kuat, selalu ada rasa yang 'kosong' saat jauh dari seorang ibu, saat tak bisa bercerita bagai mana keadaan di sekolah saat itu, bagaimana saya harus mengisi pekerjaan rumah (PR) dari sekolah sendiri tanpa bertanya 'Bu, ini gimana ya? Aku belum ngerti' atau aku tak pernah mendengar kalimat 'Tugasnya udah dikerjakan belum?' dari ibuku seperti bocah SD pada umumnya. Sekali lagi bukan karena salah Ibu ku, ini adalah cerita dari Tuhan yang harus saya jalani walaupun sangat pedih, hingga detik ini saya menuliskan cerita ini dengan penuh linangan air mata bibir ku bergetar. Bukan saya menyesal memiliki Ibu seperti beliau, tidak. Saya sangat menyayanginya dan begitu bangga padanya, beliau mengajarkanku arti tentang sabar, kuat, tegar, mandiri dan bertanggung jawab dalam hidup yang sebenarnya. Dari beliau saya belajar bahwa kopi itu sangat pahit jika tanpa gula, begitu pula dengan kehidupan akan terasa pahit sekali tanpa rasa syukur.
Sekali lagi saya berkata, 'Mengapa harus Ibu yang pintar?'
Gelar memang bukanlah segala-galanya, saya hanya ingin sedikit mengetahui tentang pendidikan yang nantinya saat anak-anak saya kelak menanyakan sebuah tugas, saya mampu membantunya dengan ketulusan seorang Ibu kepada anaknya yang sangat saya sadari hal itu tak akan dapat dari gurunya.
Saya bukan orang yang jenius dalam akademik, saya hanya seorang wanita yang ingin belajar dan mendapatkan ilmu. Tapi menurut saya, Ilmu yang hakiki dan terberat adalah ilmu sabar yang akan didapatkan dari kehidupan sehari-hari bukan semata-mata dari sekolah atau kampus saja.
Kemudian, 'Apa yang akan kamu lakukan saat sudah memiliki 2 gelar sekaligus?'
Yang jelas jawabannya bukan menjadi pegawai di perusahaan yang bonafit, dengan penghasilan sekian puluh juta perbulan. Bukan.
Saya hanya ingin menjadi pedagang yang sukses, sukses dalam mengasuh anak serta membantu suami menambah penghasilan atau bahkan sekedar membeli celana dalam saya yang sudah lusuh.
Apakah menurut kamu, pilihan saya ini bodoh? Saya tidak peduli, sekali lagi saya menuntut ilmu bukan untuk mencari uang apa lagi dipandang dengan derajat lebih tinggi. Hidup tidak sepicik itu menurut saya. Saya ingin menjadi guru untuk anak-anak saya kelak, menjadi Ibu yang baik, yang bisa mengajari anaknya dengan penuh kasih sayang, memberikan pelajaran yang kelak tak akan didapatkan oleh anak saya di lembaga pendidikan manapun. Yakni kasih sayang.
Seorang Ibu yang baik sangatlah sulit, terbukti tidak ada dalam kurikulum jurusan apapun termasuk Teknik Sipil dan Akuntansi yang sedang saya jalani. Tidak ada pula lembaga-lembaga pendidikan yang menyediakan jurusan Ibu yang Baik. Semuanya perlu dipersiapkan mulai dari sekarang karena sekali lagi saya tegaskan menjadi Ibu yang Baik itu sangat sulit, ketika seorang anak dan suami mengakui kita adalah Ibu terbaik yang ada di dunia ini. Itu sangat SULIT!
Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh berkembang tanpa sapaan selamat pagi atau selamat tidur dan kecupan kasih sayang setiap hari, saya ingin mendengar curhatan isi hati mereka tentang seseorang yang mereka sukai di kelasnya atau di sekolahnya, saya ingin mengajarkan caranya memasak tempe yang baik dan benar tanpa harus membuat dapur kebakaran, saya ingin mengajarkan anak wanita saya bermake-up yang sederhana serta menemaninya belanja, saya ingin menjadi sosok koki terbaik sepanjang hidupnya yang dengan bangganya mereka ceritakan kepada teman-temannya bahwa masakan saya paling enak sedunia, saya juga ingin sekali menjadi tempat tumpahnya air mata saat anak-anak saya kelak merasa sedih, dan saya juga ingin sekali menjadi tempat pelukan yang hangat saat anak-anak saya kelak menjadi juara di sekolahnya. Karena seorang Ibu kewajibannya bukanlah sekedar melahirkan, tetapi mendidik dan menemani tumbuh kembang anak-anaknya, menjadi tempat yang nyaman untuk anak-anaknya.
Saya ingin berdagang sesuai dengan profesi saya saat ini, karena kelak profesi itu tidak menyita waktu saya sebagai seorang Ibu dan Istri. Saya tetap dapat memantau anak-anak saya, menyiapkan makanan terlezat untuk suami dan anak-anak saya. Jika Tuhan mengizinkan, saya juga ingin sekali melanjutkan S2 akuntansi saya, siapa tahu suatu saat nanti suami saya adalah orang yang pintar yang bisa membuka usaha sendiri dan kami memulainya dari NOL, saya sebagai bagian atas keuangan perusahaan tersebut. Jika saya pintar? Saya dapat membantu suami saya walau sekedar membantu benahi keuangan usaha yang suami saya jalani kelak. Itu sangat indah~
Wanita yang baik itu akan berfikir jauh tentang masa depan keluarga terutama anak-anaknya, wanita yang baik tak kan pernah membiarkan suaminya bekerja seorang diri, wanita yang baik itu sangat fleksibel dalam melakukan sesuatu baik itu menyiapkan sarapan bahkan hanya sekedar mengikat tali sepatu anak saat akan pergi ke sekolah, pun membenahi dasi dan kemeja yang dikenakan oleh suaminya sebelum berangkat bekerja. Wanita yang baik itu cerdas dan cekatan, bukan cantik tapi benalu untuk keluarganya.
Sekali lagi, ini hanya sekedar impian terbesar dalam hidup saya. Yang mungkin ditertawakan oleh banyak orang lain yang membacanya. Semoga kelak suami saya pun menyetujui niat terbesar saya untuk menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya, buah dari cinta kami kelak. aamiiin
Salam,
Dindahiin

Sukses bikin saya nangis. Terimakasih
ReplyDeleteNangis ngopo han? pengen sate klathak lagi? hahaha
Deleteiya sama sama