Sumber Google
Sebuah
hal yang mungkin tabu untuk banyak kalangan terutama anak muda jaman sekarang
adalah “Menjoblo sampai HALAL”, tapi
tidak untuk saya pribadi. Menjadi seseorang yang single itu adalah hal yang sangat biasa buat saya pribadi. Kenapa
sih jaman sekarang masih aja jomblo? Pacaran kan asik, bisa bahagia, bisa pergi
bareng, makan bareng, nonton bareng, berbagi kesedihan, belajar bareng, kalo ngejomblo
terus gimana caranya belajar buat menyayangi suami nanti, Kak? Kan gak ada
pengalaman sama sekali dong.
Ya
kalau yang memandang begitu bocah SD, SMP, SMA sih wajar kali ya karena mereka
pun belum memahami arti cinta yang sesungguhnya. Kalo emang dengan pacaran itu
bisa bikin bahagia bagaimana halnya saat mereka menjomblo seperti saya? Apakah
mereka akan bahagia seperti saya? Jawabannya tentu tidak, karena menurut saya
orang yang sudah terbiasa pacaran akan merasa kehilangan, sedih, dan tidak
bahagia. Kenapa? Karena sebenarnya yang mereka rindukan itu adalah kebiasaan
bersama pasangannya, bukan merindukan pasangannya. Well? Itu berarti kalo mereka putus, mereka akan kehilangan
kebahagiaannya karena menggantungkan kebahagiaan terhadap pasanganya. Obatnya
apa? Mereka hanya membutuhkan pasangan yang baru. Siklus itu terus berulang
sampe Linkin Park nyanyi kosidahan pun saya rasa tidak akan pernah
berhenti. YA!
Sumber Google
Let me tell you, saya punya banyak teman di kehidupan saya yang kerap
kali menangis saat putus cinta, mencoba bunuh diri bahkan hamil diluar
pernikahan tentu ini bukan sebuah kebanggaan namun sebuah kesedihan buat diri
saya pribadi. Kemudian apa hubungannya? Hubungannya adalah saya merasa tak
perlu mengikuti jejak mereka untuk mendapatkan pengalaman pacaran. Saya tetap bertanya
kepada diri saya sendiri sebagai perempuan “Apa yang didapat dari sebuah hubungan
pacaran buat cewek?” Nggak ada. Lalu “Apa ruginya pacaran buat cewek?”
BANYAK bahkan gak terhitung. Hal terburuk bagi seorang wanita saat pacaran
adalah kebobolan . Ya, masadepan pun
seakan hilang dan nyaris tak ada harapan, terlebih sang kekasih gak bertanggung
jawab setelahnya. Mereka curhat sembari nangis sejadi jadinya tepat didepan bola
mata saya, apakah saya hanya bisa terdiam dan tak memberikan solusi karena
tidak berpengalaman? Tentu saja tidak, saya berusaha menenangkannya dan
menguatkannya. Disaat saat seperti itu wanita memang hanya butuh sandaran untuk
menjadikannya kuat kembali dan ia tak merasa sendirian.
Tak
hanya tentang percintaan selama pacaran, dalam rumah tangga di lingkungan sekitar saya berada juga sudah cukup menguatkan saya bahwasanya tak perlu menjadi
seperti mereka untuk mengetahui apa yang terjadi, bukan? Kerap kali seorang
istri (teman, kerabat, saudara maupun tetangga saya) yang curhat kepada saya
tentang asam garam kecuali asam lambung rumah tangga dan tak jarang
mereka sembari menangis menceritakan kesedihan mereka yang sebenarnya tak patut
untuk diceritakan kepada orang lain termasuk saya karena itu adalah aib rumah
tangga mereka. Lagi-lagi saya bertanya, apakah saya saat itu hanya terdiam
karena saya belum menikah? Tentu saja tidak, tetapi saya membiarkan mereka
tenang terlebih dahulu dengan sedikit sentuhan yang menguatkan hati mereka,
karena sejatinya wanita saat sedang bersedih tak memerlukan celotehan bijak
dari siapapun, yang mereka butuhkan hanyalah sandaran yaa sekali lagi adalah
SANDARAN! Saya tidak berpengalaman berpacaran apa lagi menikah, tapi mereka tetap
saja ingin berbagi kisah dengan saya.
Dari
banyak hal diatas yang sudah saya ceritakan tersebut banyak sekali pengalaman
yang saya dapat dari cerita-cerita mereka. Apakah saya harus seperti mereka
berpacaran juga? Rasanya tidak perlu, karena dari cerita mereka saja sudah
cukup banyak belajar tentang bagaimana saling mengasihi, menghargai,
menyayangi, dan saling menguatkan satu sama lain bahkan yang terpenting menjaga
suatu hubungan dengan kepercayaan serta saling menjaga satu sama lain itu
adalah hal mutlak. Suatu hubungan itu bukan dilihat dari seberapa lama pacaran
karena pada saat pacaran banyak hal yang ditutup tutupi karena tak ingin
keburukaannya diketahui oleh pasangan. Dan pada saat berumah tangga baru
mengetahui sifat buruknya, tentu saja merasa kecewa karena hal tersebut tidak
diketahuinnya saat masa masa pacaran.
Dalam
hidup kamu sudah sepatutnya harus belajar menerima kelebihan dan kekurangan
orang disekitar kamu, sepahit apapun itu seharusnya kamu bisa menerima hal
tersebut. Ingat, siapapun bisa membuat kamu kecewa jadi please jangan menggantungkan harapan lebih terhadap orang lain
termasuk orang tua kamu sendiri karena orang tua sekalipun tak pernah luput
dari khilaf.
Sumber Google
Dari
kehidupanlah kamu belajar menjadi dewasa. Perlu kamu ketahui, kedewasaan
bukanlah soal seberapa lama kamu hidup di dunia tetapi saat kamu tak pernah
merasa lebih dewasa dari orang di sekitarmu, sehingga kamu mampu belajar lebih
banyak lagi tentang hidup dan berendah hati agar tidak meremehkan orang lain.
Boleh
kamu tidak sependapat dengan saya karena memang fikiran mnusia tak pernah
selalu sama, selalu memiliki pendapat dan jalan hidup masing-masing. Mari kamu
sama sama belajar. Semoga kamu selalu menjadi diri pribadi yang lebih baik
lagi. Aamiin



No comments:
Post a Comment