Monday, August 3, 2015

Belajar Dewasa Dari Kesendirian

Sumber Google


Sebuah hal yang mungkin tabu untuk banyak kalangan terutama anak muda jaman sekarang adalah “Menjoblo sampai HALAL”, tapi tidak untuk saya pribadi. Menjadi seseorang yang single itu adalah hal yang sangat biasa buat saya pribadi. Kenapa sih jaman sekarang masih aja jomblo? Pacaran kan asik, bisa bahagia, bisa pergi bareng, makan bareng, nonton bareng, berbagi kesedihan, belajar bareng, kalo ngejomblo terus gimana caranya belajar buat menyayangi suami nanti, Kak? Kan gak ada pengalaman sama sekali dong.

Ya kalau yang memandang begitu bocah SD, SMP, SMA sih wajar kali ya karena mereka pun belum memahami arti cinta yang sesungguhnya. Kalo emang dengan pacaran itu bisa bikin bahagia bagaimana halnya saat mereka menjomblo seperti saya? Apakah mereka akan bahagia seperti saya? Jawabannya tentu tidak, karena menurut saya orang yang sudah terbiasa pacaran akan merasa kehilangan, sedih, dan tidak bahagia. Kenapa? Karena sebenarnya yang mereka rindukan itu adalah kebiasaan bersama pasangannya, bukan merindukan pasangannya. Well? Itu berarti kalo mereka putus, mereka akan kehilangan kebahagiaannya karena menggantungkan kebahagiaan terhadap pasanganya. Obatnya apa? Mereka hanya membutuhkan pasangan yang baru. Siklus itu terus berulang sampe Linkin Park nyanyi kosidahan pun saya rasa tidak akan pernah berhenti. YA!


Sumber Google

Let me tell you, saya punya banyak teman di kehidupan saya yang kerap kali menangis saat putus cinta, mencoba bunuh diri bahkan hamil diluar pernikahan tentu ini bukan sebuah kebanggaan namun sebuah kesedihan buat diri saya pribadi. Kemudian apa hubungannya? Hubungannya adalah saya merasa tak perlu mengikuti jejak mereka untuk mendapatkan pengalaman pacaran. Saya tetap bertanya kepada diri saya sendiri sebagai perempuan Apa yang didapat dari sebuah hubungan pacaran buat cewek?” Nggak ada. Lalu Apa ruginya pacaran buat cewek?” BANYAK bahkan gak terhitung. Hal terburuk bagi seorang wanita saat pacaran adalah kebobolan . Ya, masadepan pun seakan hilang dan nyaris tak ada harapan, terlebih sang kekasih gak bertanggung jawab setelahnya. Mereka curhat sembari nangis sejadi jadinya tepat didepan bola mata saya, apakah saya hanya bisa terdiam dan tak memberikan solusi karena tidak berpengalaman? Tentu saja tidak, saya berusaha menenangkannya dan menguatkannya. Disaat saat seperti itu wanita memang hanya butuh sandaran untuk menjadikannya kuat kembali dan ia tak merasa sendirian.

Tak hanya tentang percintaan selama pacaran, dalam rumah tangga di lingkungan sekitar saya berada juga sudah cukup menguatkan saya bahwasanya tak perlu menjadi seperti mereka untuk mengetahui apa yang terjadi, bukan? Kerap kali seorang istri (teman, kerabat, saudara maupun tetangga saya) yang curhat kepada saya tentang asam garam kecuali asam lambung rumah tangga dan tak jarang mereka sembari menangis menceritakan kesedihan mereka yang sebenarnya tak patut untuk diceritakan kepada orang lain termasuk saya karena itu adalah aib rumah tangga mereka. Lagi-lagi saya bertanya, apakah saya saat itu hanya terdiam karena saya belum menikah? Tentu saja tidak, tetapi saya membiarkan mereka tenang terlebih dahulu dengan sedikit sentuhan yang menguatkan hati mereka, karena sejatinya wanita saat sedang bersedih tak memerlukan celotehan bijak dari siapapun, yang mereka butuhkan hanyalah sandaran yaa sekali lagi adalah SANDARAN! Saya tidak berpengalaman berpacaran apa lagi menikah, tapi mereka tetap saja ingin berbagi kisah dengan saya.

Dari banyak hal diatas yang sudah saya ceritakan tersebut banyak sekali pengalaman yang saya dapat dari cerita-cerita mereka. Apakah saya harus seperti mereka berpacaran juga? Rasanya tidak perlu, karena dari cerita mereka saja sudah cukup banyak belajar tentang bagaimana saling mengasihi, menghargai, menyayangi, dan saling menguatkan satu sama lain bahkan yang terpenting menjaga suatu hubungan dengan kepercayaan serta saling menjaga satu sama lain itu adalah hal mutlak. Suatu hubungan itu bukan dilihat dari seberapa lama pacaran karena pada saat pacaran banyak hal yang ditutup tutupi karena tak ingin keburukaannya diketahui oleh pasangan. Dan pada saat berumah tangga baru mengetahui sifat buruknya, tentu saja merasa kecewa karena hal tersebut tidak diketahuinnya saat masa masa pacaran.

Dalam hidup kamu sudah sepatutnya harus belajar menerima kelebihan dan kekurangan orang disekitar kamu, sepahit apapun itu seharusnya kamu bisa menerima hal tersebut. Ingat, siapapun bisa membuat kamu kecewa jadi please jangan menggantungkan harapan lebih terhadap orang lain termasuk orang tua kamu sendiri karena orang tua sekalipun tak pernah luput dari khilaf.

Sumber Google

Dari kehidupanlah kamu belajar menjadi dewasa. Perlu kamu ketahui, kedewasaan bukanlah soal seberapa lama kamu hidup di dunia tetapi saat kamu tak pernah merasa lebih dewasa dari orang di sekitarmu, sehingga kamu mampu belajar lebih banyak lagi tentang hidup dan berendah hati agar tidak meremehkan orang lain.

Boleh kamu tidak sependapat dengan saya karena memang fikiran mnusia tak pernah selalu sama, selalu memiliki pendapat dan jalan hidup masing-masing. Mari kamu sama sama belajar. Semoga kamu selalu menjadi diri pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin

See You…

No comments:

Post a Comment